Kenapa Memutuskan untuk Beli Rumah

Gimana kok bisa aku dan suami bisa memutuskan beli rumah? Atas dasar apa sih kami beli rumah di tengah harganya yang makin mahal sekarang ini? 

Memutuskan untuk beli rumah bukan perkara gampang yang ujug-ujug kepengen lalu langsung direalisasikan. Tentu banyak pertimbangan buat siapa saja termasuk pasangan muda atau satu keluarga hingga akhirnya memilih untuk beli rumah ketimbang ngekos, ngontrak, atau tinggal sama mertua/orang tua.

Kali ini aku ingin sedikit cerita beberapa alasan aku dan suami  akhirnya memutuskan untuk beli rumah, meski masih KPR atau nyicil. Ingat ya, semua alasanku dan suami yang akan ku ceritakan nanti bukan berarti bisa jadi alasan kalian buat beli rumah juga. Aku yakin kondisi dan kebutuhan masing-masing orang dan keluarga beda-beda kok.

Kapan Kami Memutuskan untuk Beli Rumah?

Sebelum bicara lebih jauh tentang alasan kami memutuskan beli rumah, ada pertanyaan yang mungkin temen-temen pengen tahu. 

Kapan sih kami memutuskan buat beli hunian sendiri?

Jadi, aku dan suami memang udah sepakat sebelum menikah, kalau habis nikah kita jangan tinggal di rumah orang tua dia, bukan karena keluarganya bikin nggak nyaman atau gimana ya, soalnya semua anggota keluarganya baik-baik semua alhamdulillah.

Tapi lebih kayak ngerasa kayaknya aku bakal nggak nyaman tinggal di sana, karena kesibukan dan aktivitasku yang seperti sekarang ini. Aku kerja kantoran sampai sore kadang juga lembur, sampai kos aja udah maghrib, badan capek belum tentu mood buat masak, malamnya masih aktivitas nulis, ngurus kerjaan di blog, atau ngurus kerjaan temen-temen penulis di noedigitalmedia.com. Bisa sampai malam dan bisa ngejogrok aja gitu di kamar.

Kalau tinggal sama mertua kan kayaknya kurang sopan aja kalau nggak bantu masak, bantu bersih-bersih, ngobrol di ruang tamu dan sebagainya. I have to do that but i don’t have enough time to do it tiap hari gitu loh. 

Aku yakin mertuaku juga nggak bakal nyuruh atau minta bantuin urusan rumah ini itu sih, karena pernah juga sekali beliau bilang, “kalau capek pulang kerja, makannya beli aja nggak usah masak” (sepengertian itu). Tapi aku sendiri sih pasti bakal sungkan sih tetep. 

Makanya, tinggal di rumah mertua nggak aku masukin ke opsi dimana kita harus tinggal nantinya habis nikah. Terlebih di rumah mertua masih ada adik-adik suami yang bisa jagain ayah dan ibu mertua. Maksudnya, ayah dan ibu mertua masih sehat (alhamdulillah). Kalau kondisi kesehatan mertua berbeda, ya beda cerita ya temen-temen. 

Jadi, aku memutuskan ingin beli rumah sama suami ya sejak kami masih pacaran dan udah mulai ngobrol soal rencana pernikahan. 

Aku rasa ada banyak hal penting yang harus diobrolin sama pasangan sebelum nikah, SALAH DUANYA ADALAH MASALAH MANAJEMEN KEUANGAN DAN DIMANA AKAN TINGGAL nantinya.

Tujuannya apa? Biar menyamakan visi misi dan rencana atau step buat menuju visi misi itu benar-benar ADA gitu loh. Nggak Cuma manis di bibir aja tanpa realisasi.

Jangan sampai yang berencana hanya si wanita atau si laki laki aja, sedangkan yang satunya cuek-cuek aja nggak ada rencana sama sekali. 

Nah saat udah ketemu nih visi misinya sama, pasti dong yang diobrolin masalah uangnya gimana biar bisa beli rumah? Kan duit gede, belum lagi kami juga lagi persiapkan dana buat acara lamaran dan nikahannya. Jadi harus siapin dana double nih? Trus gimana cara nabungnya? Tunggu di artikel selanjutnya yah. Hehe.

Alasan Kami Memutuskan untuk Beli Rumah

Pilihan tempat tinggal buat pasangan baru emang banyak ya gaes. Selain ikut orang tua atau mertua, bisa juga pakai opsi nge kos bulanan atau ngontrak tahunan. Kami juga masih lanjut tinggal di kos kecil ku dulu abis nikah kemarin sambil nunggu proses pembangunan rumah selesai. Kenapa kami memutuskan untuk beli rumah saat ini? Ini alasannya. 

Kenapa Memutuskan untuk Beli Rumah

1. Harga rumah makin mahal

Harga rumah sekarang makin gila-gilaan sih, aku yang tinggal di Surabaya aja nggak berharap bisa dapat rumah yang nyaman di Surabaya karena pasti udah mahal banget dan pilihan rumah yang akses jalannya enak makin susah.

Aku sama suami ambil rumah di Sidoarjo itu aja harganya udah wow banget. Untuk di perumahan 1 lantai harga di Sidoarjo kota udah di kisaran 400 jutaan, dan 600-700 juta an untuk 2 lantai.

Sedangkan kalau di pinggiran Sidoarjo, 400-500 jutaan bisa dapat yang 2 lantai. Dulu, puluhan tahun lalu, orang kantorku nggak sampai seratus juga udah dapat rumah di perumahan yang cukup mewah sekarang, deket tengah kota pula. Hmm. Ya emang inflasi nyata adanya gaes.

Semakin lama menunda beli rumah artinya kita juga siap akan mendapatkan harga rumah yang makin fantastis nantinya. 

Kalau diniatkan mau menabung dulu biar bisa beli rumah secara cash bisa bisa aja kok, asalkan temen-temen taruh uangnya di instrumen investasi yang bisa potensi kasih return melebihi inflasi.  

2. Perumahan-perumahan baru makin ke pinggir kota

Percaya atau enggak, dari puluhan rumah di dekat pusat kota Sidoarjo yang kami survey atau datangi hampir semuanya harus melewati jalan jalan atau gang gang sempit, artinya, sedikit banget yang punya akses jalan nyaman sesuai yang kami harapkan. Kalau adapun, harganya udah mendekati 1 Milyar. Amazing nggak tu.

Mana Eriec saklek banget nggak mau yang masuk-masuk gang karena bisa stress cari puteran jalan kalau ada orang punya hajatan. Ini true story ya gaes, Surabaya dan Sidoarjo itu kalau bikin hajatan di rumah sampai menutup jalan atau gang. Dan tahu kan kalau pas bulan-bulan orang nikah itu kan seringnya barengan, jadi di satu area itu bisa ada spot yang ditutup karena ada acara. 

3. Mumpung kebutuhan belum makin membludak dan masih usia produktif

Pikirku sih, mumpung masih baru nikah, kebutuhan masih lebih sedikit dan pengeluaran bisa ditekan, kami pun masih sama-sama usia produktif yang masih bisa lah ya kerja lebih keras lagi gitu nyari ceperan sana sini buat siapin dana DP rumah dan bayar cicilannya. 

Kalau sudah ada anak atau anak sudah agak besar mungkin biaya nya akan lebih difokuskan buat kepentingan dan masa depan anak gitu. Meski ya namanya rezeki itu Allah yang kasih ya. Wallahualam semampu kita aja.

Kalau menunda beli rumah nanti-nanti, bukan hanya harga rumah makin tinggi, tapi bisa jadi fisik kita buat cari rejeki juga lebih menurun nggak sih?

4. Motivasi untuk lebih semangat mencari rejeki 

Alasan lain kenapa aku memutuskan untuk beli rumah karena aku pengen banget punya hunian yang nyaman ditinggali, pengen ngisi rumah dengan beragam perabot rumah yang estetik dan memudahkan aktivitas sehari-hari bikin aku dan suami makin semangat cari rejeki.

Aku memang dulu modelnya begini ini, saat ada keinginan mau beli sesuatu, kayak otomatis otak mikir terus gitu gimana bisa cari penghasilan tambahan dan maksimal kerjanya di kerjaan utama.

5. Estimasi masa pelunasan rumah

Aku rasa di usiaku sama suami sekarang, kalau kami ambil rumah akan terasa lebih enteng buat nyicil sampai pelunasan, kebutuhan belum tinggi banget, terus juga usia masih terbilang produktif jadi saat nanti rumah lunas, kita belum jadi embah embah gitu.

6. Estimasi Perbandingan Biaya Beli Rumah dan ngontrak/sewa kost

Aku itu udah jadi anak kos mulai 2010. Sampai sekarang harga kos an yang aku tempati relatif selalu naik (karena emang pindah-pindah juga). Mulai dulu 300 ribuan hingga kini 1 jutaan (include listrik). Untuk biaya kos saat ini aja, kamar 1 ac kamar mandi dalam kalau ditotal aku menghabiskan uang Rp12.000.000 dalam satu tahun. 

Kalau aku nggak ngekos, uang ini udah bisa buat tambahan DP rumah, atau buat kebutuhan sehari-hari lainnya.

Sedangkan kalau ngontrak di Surabaya atau Sidoarjo, untuk dapat kontrakan yang nyaman juga bisa habis 15-30 juta per tahun.

7. Kenyamanan dan ketenangan

Buat yang pernah ngekos, pasti tahu dong gimana kenyamanannya. Kita mau hidup tenang aja susah. Mau fokus kerja di kos juga harus setel musik keras-keras dulu di headphone atau speaker biar nggak kedengeran suara ramai dari luar.

Banyak lah hal-hal lain yang bikin ngekos  itu kurang nyaman. Termasuk salah satunya keterbatasan mau merenovasi ruangan agar looknya lebih kece dan nyaman. Serasa nggak ikhlas aja kalau harus renovasi bangunan orang lain, mengecat dinding aja contoh kecilnya.

8. Bisa fokus ke tujuan keuangan dan tujuan keluarga lainnya

Jujur, kami masih punya banyak tujuan keuangan bersama, kumpulin dana darurat, bikin bisnis berdua, fokus ke urusan anak kelak, umroh, liburan dan lain sebagainya, banyak banget. Rasanya kalau udah punya rumah dan udah tau nih budget cicilan per bulan berapa, jadi sisa dana yang ada per bulan udah tau mau dialokasikan untuk apa aja.

9. Pas cukup pengaturan budgetnya

Satu yang perlu diingat, kami memutuskan beli rumah secara kredit karena kami, aku khususnya udah bikin hitungan berapa kemampuan kami untuk bayar cicilan per bulan, berapa dp yang harus kami siapkan, berapa sisa dana untuk kebutuhan kami per bulan dan berapa dana yang bisa kami sisihkan untuk saving atau investasi di instrumen lain. Bahkan aku udah itung perkiraan cicilan saat suku bunga bank nanti naik (saat bunga flat cicilan kami habis).

Jadi kami bukan asal kepengen terus maksain beli dengan perhitungan yang nggak jelas ya. Kami juga nggak mau terjerumus dan hidup blangsak karena nggak sanggup bayar utang.

10. Pengen lebih produktif ngonten di rumah sendiri

Sejak lama aku mendambakan bisa punya rumah sesuai dengan dekorasi sesuai keinginanku. Yang bisa nyaman dipakai kerja. Aku juga lagi pengen banget ngonten seputar dunia rumah dan kegiatanku di rumah. Aku nggak tau nanti mau fokus di blog, instagram, youtube atau ketiganya. Semoga aku bisa makin rajin ngonten dan mencari pemasukan tambahan sama suami dengan rumah baru kami. Aminnnn.

Haruskah Beli Rumah untuk Pasangan Muda?

Setiap orang mungkin punya pendapat berbeda-beda ya. Nggak ada keharusan juga untuk punya rumah sendiri. Kondisi setiap pasangan kan berbeda-beda. Bukan hanya masalah finansial aja loh, bisa jadi pasangan baru memilih tinggal di rumah orang tua karena orang tuanya butuh pengawasan, butuh dirawat dan harus dekat dengan anaknya karena satu dan lain hal, sakit misalnya.

Mau memutuskan untuk beli rumah atau enggak itu ada di tangan kita sendiri. Kita yang tahu kondisi finansial dan kebutuhan kita seperti apa.

Yang pasti apapun keputusan temen-temen yang baru menikah, aku harap itu pilihan terbaik setelah melakukan diskusi sama pasangan. Dan buat temen-temen yang berencana beli rumah juga, yuk pakai kacamata kuda biar mata nggak gampang tergoda beli ini itu yang kurang dibutuhkan. Yuk rajin-rajin nabung bareng suami. Yuk semangat cari penghasilan tambahan kalau dirasa penghasilan saat ini masih belum cukup untuk budget beli rumah.

Kalau ada masukan atau pertanyaan temen-temen bisa komen di kolom komentar yah..

Semangat semua!!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini